Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi Februari 2012
KALENDER LITURGI: FEBRUARI 2012
KEPENGANTARAAN BUNDA MARIA
oleh: St. Maximilianus Maria Kolbe
"Ada dua macam kepengantaraan. Pertama adalah orang menerima sesuatu dari yang lain, tetapi untuk suatu tujuan tertentu; jadi ia yang menerima pemberian itu bukanlah pemilik, melainkan wajib menggunakan pemberian tersebut sedemikian rupa seperti yang telah disampaikan kepadanya; sementara itu adalah orang yang menerima pemberian yang sama namun untuk dijadikan hak milik eksklusifnya dan dengan demikian berhak untuk berbuat atasnya sebagaimana ia kehendaki.Bunda Maria ada dalam kategori kedua, yang telah menerima rahmat dengan cara demikian dari Allah. Ia bukan seperti seorang tukang pos. Ia tidak menerima rahmat-rahmat dari Allah untuk suatu tujuan yang telah ditetapkan, sehingga ia dapat mempergunakannya dengan suatu atau lain cara. Perawan Tak Bercela menerima berlimpah rahmat dari Allah sebagai hak milik eksklusifnya sendiri dan ia membagi-bagikannya kepada kita sebagaimana dikehendakinya, kepada siapa yang dikehendakinya, dan sebab dikehendakinya, karena rahmat ini adalah miliknya sendiri. Di sini, akhirnya, dapat kita lihat betapa kudus dan agung Allah telah menjadikan Bunda-Nya Tersuci, dan betapa patut kita menghormatinya."
MEDIATRIX = PERANTARAAN MARIA
dikutip dari: Redemptoris Mater, Paus Yohanes Paulus II
Di Kana di Galilea dilihatkan juga hanya satu segi konkrit kebutuhan manusia, satu kejadian dan tampaknya tidak begitu penting ("anggurnya habis"). Namun hal itu memiliki arti simbolik: datang untuk menolong kebutuhan manusia, artinya, pada saat yang sama, membawa kebutuhan tersebut ke dalam lingkup tugas Kristus sebagai Messias dan kekuatan penyelamatan-Nya. Jadi, dalam hal itu ada suatu kepengantaraan: Maria menempatkan diri antara Putranya dan umat manusia dalam situasi kekurangan, kebutuhan, dan derita mereka. Dia menempatkan diri "di tengah-tengah", yaitu dia berlaku sebagai PERANTARA, tidak sebagai orang luar, melainkan dalam kedudukannya sebagai seorang ibu. Maria sadar, bahwa sebagai ibu, dia dapat menyampaikan kepada Sang Putra kebutuhan manusia, dan bahkan dia "berhak" untuk berbuat demikian. Bahwa Maria berdiri di tengah antara Kristus dan manusia dan dengan demikian mengandung sifat sebagai pengantara: Maria "menjadi perantara" bagi manusia. Dan itu belum semuanya: Sebagai seorang ibu ia juga menginginkan agar kekuasaan Putranya sebagai Messias dinyatakan, yaitu kuasa penyelamatan-Nya, yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam kemalangannya, membebaskannya dari yang jahat, yang dalam berbagai bentuk dan taraf membebani hidup manusia…Unsur hakiki lainnya dalam tugas Maria sebagai ibu terungkap dalam kata-katanya kepada para pelayan: "Lakukan apa yang dikatakan-Nya kepada kalian." Bunda Kristus menampilkan diri di hadapan orang-orang sebagai juru bicara kehendak Putranya, dengan menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan supaya kuasa penyelamatan Messias dapat diwahyukan. Di Kana, berkat perantaraan Maria dan ketaatan para pelayan, Yesus mulai dengan "saatnya". Di Kana Maria menunjukkan kepercayaannya kepada Yesus: iman Maria menyebabkan tertampilkannya "tanda" pertama Yesus dan membantu membangkitkan iman para murid.
Karena itu kita dapat mengatakan bahwa dalam kutipan Injil Yohanes ini kita menemukan sekaligus pemancaran pertama kebenaran mengenai keprihatinan Maria. Sebagai seorang ibu kebenaran ini juga terungkap dalam ajaran Konsili Vatikan II. Perlu diperhatikan bagaimana Konsili menggambarkan peran Maria sebagai ibu dalam kaitannya dengan kepengantaraan Kristus. Demikian kita membaca: "Fungsi Maria sebagai ibu terhadap umat manusia tidak akan menutupi atau mengurangi kepengantaraan Kristus yang unik melainkan malahan menunjukkan keberhasilannya", "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 Tim 2:5). Peran ibu Maria itu mengalir, sejalan dengan kebaikan Allah, "dari kelimpahan jasa-jasa Kristus; hal itu berlandaskan kepengantaraan-Nya, dan tergantung daripada-Nya sama sekali, dan mendapatkan semua daya gunanya dari situ. Memang dalam arti inilah peristiwa di Kana di Galilea menyajikan kepada kita semacam pemakluman pertama kepengantaraan Maria, yang seluruhnya terarah kepada Kristus dan bertujuan mewahyukan kuasa penyelamatan-Nya.
MARIA, MEDIATRIX KITA
dikutip dari: "Kemuliaan Maria", St Alfonsus de Liguori
Tak seorang pun menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara keadilan, dan bahwa Ia dengan jasa-jasa-Nya telah memperolehkan rekonsiliasi kita dengan Allah. Tetapi, di lain pihak, adalah kurang iman bersikukuh bahwa Allah tak berkenan menganugerahkan rahmat-rahmat melalui perantaraan para kudus-Nya, dan terlebih istimewa melalui Maria BundaNya, yang betapa Yesus inginkan dikasihi dan dihormati oleh semua orang. Siapakah yang dapat beranggapan bahwa hormat yang disampaikan kepada seorang ibunda tidak menggandakan kehormatan putera? "Kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka" (Amsal 17:6). St Bernardus mengatakan, "Janganlah beranggapan bahwa kita menyuramkan kemuliaan Putra dengan limpahan pujian yang kita sampaikan kepada Bunda; sebab semakin Bunda dihormati, semakin Putra dimuliakan." "Tak dapat diragukan," katanya, "bahwa apapun yang kita sampaikan sebagai pujian kepada Bunda sama dengan pujian kepada Putra." Dan St Ildephonsus juga mengatakan, "Bahwa apa yang diberikan kepada Bunda berdampak kepada Putra; hormat yang disampaikan kepada Ratu adalah hormat yang disampaikan kepada Raja." Tak dapat diragukan bahwa dengan jasa-jasa Yesus, Maria dijadikan Mediatrix keselamatan kita; bukan sungguh seorang Mediatrix Keadilan, melainkan mediatrix rahmat dan perantara; sebagaimana St Bonaventura secara istimewa menyebutnya "Maria, mediatrix keselamatan kita yang paling setia." Dan St Laurentius Yustinianus bertanya, "Bagaimanakah ia dapat tidak penuh rahmat, ia yang telah dijadikan tangga menuju firdaus, gerbang surga, mediatrix paling sejati antara Allah dan manusia?"Karenanya Suarez yang terpelajar dengan tepat mengatakan bahwa jika kita memohon Bunda Maria untuk memperolehkan bagi kita suatu permohonan, itu bukan karena kita tidak percaya akan kerahiman ilahi, melainkan karena kita takut akan ketidakpantasan kita sendiri dan akan tiadanya diposisi batin yang layak; dan kita mempercayakan diri kita pada Maria, agar martabatnya dapat mengisi kehinaan kita. Ia mengatakan bahwa kita memohon kepada Maria "agar martabat perantara dapat mengisi kemalangan kita. Dengan demikian, memohon pertolongan Santa Perawan Tersuci bukanlah ketidakpercayaan pada kerahiman ilahi, melainkan ketakutan akan ketidaklayakan diri sendiri."
... St Sofronius, dalam sebuah khotbah mengenai Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, yang diterbitkan bersama karya St Hieronimus, mengatakan, "bahwa kelimpahan rahmat yang ada dalam Yesus Kristus dimiliki Maria, meski dalam suatu cara yang berbeda"; artinya bahwa Tuhan kita, seperti dalam kepala, darimana roh-roh utama (yakni, pertolongan ilahi untuk memperoleh keselamatan abadi) mengalir ke dalam kita, yang adalah anggota-anggota tubuh mistik-Nya; dan bahwa kelimpahan yang sama ada dalam Maria, seperti dalam leher, melalui mana roh-roh utama ini disampaikan kepada anggota-anggotanya. Gagasan yang sama ditegaskan oleh St Bernardine dari Sienna yang menerangkannya dengan lebih jelas, mengatakan "bahwa segala rahmat hidup rohani yang turun dari Kristus, Kepala mereka, kepada umat beriman, yang adalah tubuh mistik-Nya, disampaikan melalui Maria." St Bernardine berupaya memberikan alasan untuk ini ketika ia mengatakan, "bahwa sebagaimana Allah berkenan tinggal dalam rahim Perawan Tersuci ini, ia mendapatkan, demikian dapat dikatakan, semacam wewenang atas segala rahmat; sebab ketika Yesus Kristus lahir dari rahimnya yang tersuci, segala aliran rahmat ilahi mengalir darinya bagai dari suatu samudera surgawi." Di tempat lain, mengulang gagasan yang sama dalam istilah yang lebih jelas, ia menyatakan bahwa "sejak dari saat Bunda Perawan ini mengandung Sabda Allah dalam rahimnya, ia mendapatkan suatu wewenang istimewa, demikian dapat dikatakan, atas segala karunia Roh Kudus, hingga sejak itu tak ada satu makhluk pun menerima rahmat dari Allah selain melalui tangan-tangan Maria."
Selengkapnya silakan baca:
ST PADRE PIO DAN BUNDA MARIA
Ketika suatu hari ditanyakan kepada Padre Pio warisan apakah yang akan ia tinggalkan bagi anak-anak rohaninya, ia segera menjawab, "Rosario." Berapa banyak rosario yang ia daraskan setiap hari? Ia menjawab tigapuluh lima rosario penuh. Takjub akan angka yang tampaknya mustahil ini, orang bertanya bagaimana ia dapat mendaraskan sebegitu banyak dalam sehari. Padre Pio menjawab: "Bagaimana engkau dapat tidak mendaraskannya sebanyak itu?" Padre Eusebio, rekan terkasihnya bertanya: "Apakah Bunda Maria pernah menampakkan diri kepadamu, dan apakah engkau melihatnya?" Padre Pio menjawab: "Bunda Maria datang kepadaku kapanpun aku membutuhkannya." Seorang imam biarawan lain bertanya: "Apakah Bunda Maria pernah datang ke kamar Padre?" Dan ia menjawab: "Mengapa tidak bertanya sebaliknya, 'apakah ia pernah meninggalkan kamarku?'" Kepada rekan-rekan imam ketika mereka bertanya mengenai Bunda Maria dan apakah Bunda Maria bersamanya pada waktu Misa, Padre Pio kerap mengatakan: "Bunda Maria menyertaiku ke altar dan tinggal di sampingku sementara aku mempersembahkan Misa Kudus."
Giuseppa Forgione, ibunda Padre Pio, mengasihi Maria seperti puteranya. Ketika Francesco meninggalkan rumah menuju seminari pada tahun 1902, ibunya menghadiahinya sebuah pigura besar dengan lukisan indah Bunda Maria bergelar "Bunda Kemurnian". Hadiah dari ibunya ini selalu bersama Padre Pio. Ia menggantungkan lukisan ini di kaki tempat tidurnya supaya ia dapat memandangi Madonna yang menawan sementara ia mendaraskan rosario sebelum tidur. Para peziarah yang mengunjungi Biara akan melihat dalam kamar tidur Padre Pio, Bilik #1, lukisan "Bunda Kemurnian" ini masih tergantung di kaki tempat tidurnya hingga kini.
Padre Pio mengatakan: "Sebagian orang begitu bodoh hingga mereka pikir mereka dapat melalui hidup tanpa pertolongan Bunda Maria." Kepada mereka yang datang untuk berterima kasih sebab permohonan mereka dikabulkan, Padre Pio mengatakan:
"Segala ucapan syukur harus diberikan kepada Bunda Maria sebab ia adalah Mediatrix segala rahmat."
Yang Baru:
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : Februari 2012
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||